Dari Timor Untuk Tuhan - Ricardus Keiya
-->

Tuesday, September 26, 2017

Dari Timor Untuk Tuhan

author photo
Gamanusratim
Mahasiswa Pasca NTT IPB
Kali ini saya ingin menulis tentang Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur, biasanya disingkat hanya dengan sebutan NTT, menurut saya agak lebih familiar menyebutkan NTT ketimbang harus Nusa Tenggara Timur. Ya tetapi semua itu kan tergantung selera siapa yang menyebutkan, iya Kan ?

Untuk memulai tulisan ini, maka mungkin pertanyaan yang tepat adalah seperti apakah NTT itu ?

Ditahun 2015 yang lalu, saya sempat mendengar sebuah istilah yang menurut saya agak menarik untuk ditelusuri dan tentunya masih asing buat saya. Kata mereka istilah itu adalah FLOBAMORA. Rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi. FLOBAMORA menjadi primadona dalam banak saya, sejenak ia (FLOBAMORA) lalu merasuk masuk dan merusak konsentrasi saya. Apakah itu FLOBAMORA, bertanya dan terus bertanya. Berulang kali saya berusaha mencari jawabnya, lalu saya memilih berguru pada sang google.  Banyak orang, termasuk saya sendiri belum mengenal lebih dalam tentang NTT (mungkin orang NTT juga), padahal terdapat begitu banyak hal yang menarik dari provinsi ini.  Dua hal yang paling dikenal dari provinsi ini adalah Komodo dan Danau Kelimutu.

Kembali lagi dengan Istila FLOBAMORA.  Orang-orang sering menyebut FLOBAMORA. FLOBAMORA  merupakan singkatan dari FLOres, SumBA, TiMOR, Alor. Ya, itu adalah pulau-pulau  besar yang ada di NTT. Selain pulau-pulau tersebut ada juga beberapa pulau lain yang cukup terkenal yaitu Rote, Sabu, Semau, Adonara. Ibukota NTT, Kupang berada di Pulau Timor, bertetangga dengan Timor Leste. Sepertinya saya sudah mengerti kenapa terkadang orang menyebut NTT dengan istilah FLOBAMORA.
***
Jauh sebelum nama NTT tersebar, gugusan pulau-pulau di selatan Nusantara tersebut telah menjadi perhatian dunia. Harumnya aroma cendana dari Timor telah menerobos sampai Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa, dan berbagai penjuru bumi. Kekuatan aroma cendana tersebut menjadikan para pedagang dari Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, Cina melakukan pelayaran niaga untuk mencapai wilayah sumber cendana. Dan mereka melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja di Timor dan pulau-pulau sekitarnya, sang pemilik wilayah dan pemimpin rakyat.

Catatan sejarah dari Tiongkok, "manuskrip Dao Zhi", sejak tahun 1350 dinasti Sung sudah mengenal Timor dan pulau-pulau sekitar, dan salah satu pelabuhan terkenal di Timor adalah "Batumiao-Batumean Fatumean Tun Am", yang ramai dikunjungi kapal dari Makasar, Malaka, Jawa, Tiongkokdan kemudian Eropa seperti Spanyol, Inggris, Portugis, Belanda. 
***
Bericara tentang NTT, tentu tidak dapat dipisahkan dari kelebihan-kelebihan dan talenta-talenta yang mereka miliki. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia misalnya. Mungkin secara umum orang Indonesia tidak mengenal siapa pria berna Riwu Ga. Riwu Ga adalah anak Angkat Presiden Republik Indonesia pertama, yakni bung-Karno dan Ibu Inggit.

Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, dan Bung Karno telah direncanakan akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno. Pesawat yang akan mengangkut Bung Karno pun telah disiapkan. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut.

Saat Sukarno dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat, Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan sebelum akhirnya Sukarno tiba kembali di jakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan, Riwu berada di samping Bung Karno. ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca, dalam hatinya Ia berteriak  : Merdeka, Merdeka, Merdeka.   Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk mengabarkan seantero Jakarta bahwa Indonesia sudah merdeka.

Pertanyaanya adalah siapakah pria yang bernama Riwu Ga itu ? Riwu Ga merupakan seorang pria yang berasal dari Sabu, Nusa Tenggara Timur. Siapa diantara anda yang mengenal Riwu? Di hari tuanya, ia kembali ke desanya, hanya memacul tanah tandus di Flores. Jauh dari pada itu yang terpenting adalalah bahwa, masyarakat NTT pun memiliki peran yang sangat penting untuk terbentuknya Negara Indonesia. NTT memang kren bukan ?

Bung Karno dan Kemerdekaan
Riwu Ga [ Image sources ]
Mungkin di masa kelam Riwu Ga, memberikan sumbangsinya untuk bangsa ini. Betapa setianya Riwu menemani perjalanan sang Proklamtor hingga Negara ini Merdeka.

Kini, Indonesia tidak kehilangan Riwu Ga. Di dunia entertaint, bermunculah Riwu-Riwu  yang baru.  Munculnya Mario G klau, Amesh, Afdur adalah bukti bahwa negara ini butuh kerja sama dari Negri timur. Mereka (Mario G klau, Amesh, Afdur) memberikan warna tersendiri dalam dunia  hiburan tanah air. Betapa tidak, setiap kali mereka tampil, ciri khas "ketimuran-nya" selalu melekat, dan dari mereka lah orang-orang di Indonesia dapat mengenal, bahwa Indonesia tidak hanya Sumatra dan Jawa, ada juga NTT dan lainnya di wilayah Timur.  Sekali Krena kan NTT ? 
Baca Juga : Black Sweet: Anak Jayapura yang sukses di Jakarta  
nasionalisme Orang timur
Amesh, Afdur, dan Mario Artis NTT
*** 
Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk menunjukan  bahwa NTT memang luar biasa di Negara ini. Pada masa perjuangan, Riwu Ga berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Ada Afdur, Amesh, dan Mario yang  berjuangan dalam dunia entertaint. Namun kali ini penting juga kita ketahui bahwa ada sumbangi besar NTT untuk dunia Pendidikan Indonesia.

Perna anda mendengar nama Ignas Kleden ? Dr. Ignas Kleden, M.A. adalah sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra. Dia merupakan salah satu penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2003 karena dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan tajam melalui esai dan kritik kebudayaannya.

Ignas Kleden lahir dan besar di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948. Sempat bersekolah di sekolah calon pastor berkat lulus dengan predikat terbaik di sekolah dasar. Namun keluar dari sekolah tersebut lantaran tidak dapat berkhotbah dengan baik. Lalu ia memilih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores (1972), meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (1982), dan meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman (1995). Ketika masih tinggal di Flores, ia sudah mengenal majalah Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah Tempo. Ignas juga pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores.

Setelah hijrah ke Ibu Kota, tahun 1974, Ia makin aktif menulis, baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. Sempat pula bekerja sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta (1976-1977), Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta (1977-1978), dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta.Tahun 2000 turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur, yang mengkaji penguasaan beberapa bahasa asing, teologi, filsafat, dan sosiologi banyak membantu peningkatan kariernya.
Ia Pun menjadi Dosen di kampus Universitas Indonesia. 
Sosiolog, filsafat Indonesia
Ignas Kleden [Image Sources]
Di tahun 2015-2017, untuk pertama kali-nya saya bersahabat dengan beberapa Mahasiswa IPB, mereka berasal dari NTT. Banyak sekali keunikkan yang mereka miliki, terkadang saya sirik kenapa tidak terlahir sebagai generasi NTT, hahahhhah.

Mereka memiliki talenta-talenta yang luar biasa, mereka dapat bernyanyi, dapat juga bercanda, pandai pun dalam dunia akademisi. Sejenak lalu saya berfikir, mereka adalah bakat-bakat terbaik yang dimiliki Pulau Cendana itu.  Mereka adalah generasi-generasi yang akan meneruskan tongkat estafet yang telah diperjuangkan Ignas Kleden dalam dunia akademis. Maju trus kawan-kawan ku. Masih ingat ketika kalian menyumbangkan tenaga kalian untuk Gereja, saat itu orang-orang  di Luar kalian mengagumi bahwa kalian memang luar biasa. 
Baca Juga : Yang Membuat Papua Unik Di Indonesia
Baca Juga : Gerakan “500 Payung Peduli Mama”  
Keiya, Bogor 
2017
Sumber :
- Wikipedia
- Flobamorapedia

This post have 0 komentar

1. Dibutuhkan Kritik dan Saran Yang Membangun
2. Kritik dan Saran Harus Sesuai Konten Tulisan
3. Terima Kasih Telah Berkunjung
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post