PAPUA FILM - Ricardus Keiya
-->

Tuesday, February 16, 2016

PAPUA FILM

author photo



Papua adalah daerah yang luas. Ada bagian pesisir, ada bagian pegunungan, ada pula bagian pedalaman.  Jumlah suku bangsa yang ada disana diperkirakan sekitar 275 suku, dengan bahasa yang berbeda-beda antara suku yang satu dan yang lain. 
     Kini  ada sebuah pengalaman yang  benar-benar sangat menarik. Melihat kehidupan yang masih polos, kehidupan yang  masih tergantung dengan perubahan alam sekitar

Adalah  “DSEHUNGELKIND”  sebuah film documenter  yang berceritera tentang kehidupan salah satu suku di Papua.   Mereka adalah suku yang hidup di pinggir aliran sungai Mamberamo. Film yang berdurasi lebih dari satu jam ini, menceriterakan bagaimana usaha keluarga “bule” yang datang jauh-jauh dari Jerman dengan misi kemanusiaan. Keluarga “bule” ini  berusaha mengobati orang-orang sekitar yang terluka, akibat adanya budaya “membunuh dan dibunuh”.  Terkadang mereka hanya bisa menyaksikan ketika seseorang di panah, terkadang pula nyawa mereka menjadi taruhan ketika sedang terjadi perang suku. Namun bagi mereka itu adalah tantangan yang harus dihadapi dalam misi pelayanan mereka, yakni misi kemanusiaan.


Kisah di film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh Sabine Kuegler (38), yang hijrah dari Jerman ke pedalaman Papua pada bulan Januari 1980. Bagi Sabine, hutan Papua merupakan tempat yang benar-benar memberikan kepuasan batin tersendiri. Sabine yang ketika itu berusia delapan tahun bersama dengan kedua orangtuanya Klaus dan Doris Kuegler serta kedua saudara kandungnya, Judith (10) dan Christian (6), terbang dari Jerman dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di hutan Papua. Ayah Sabine, Klaus Kuegler, menjalankan misi di sana sebagai peneliti bahasa dan juga sekaligus misionaris yang terjun di tengah-tengah suku Fayu di pedalaman Papua. Dengan serius ia meneliti bahasa yang digunakan oleh suku Fayu tersebut dalam kurun waktu yang sangat lama. Berkat jasa serta keramahan kepala suku Fayu, Klaus Kuegler dapat mendirikan sebuah pondok untuk keluarganya tinggal selama ia melakukan ekspedisinya di sana. Untuk dapat menuju ke pedalaman tempat suku Fayu berada, mereka harus menempuh perjalanan dengan menggunakan helikopter. (lihat)

Dari filim ini yang dapat kita petik adalah bahwa Pelayanan itu harus Iklas dan disertai dengan komitmen atau loyalitas yang tinggi. 


Dalam era yang sudah serba modern ini, masih ada saja masyarakat kita yang belum mengenal dunia luar, oleh karena itu,  harapan kita kedepan adalah, tugas berat bagi kita semua yang kuliah untuk merubah kehidupan di Papua, “kata  Popy”


Di sisi lain  Zakeus  Rumpedai juga memberikan pesan kepada teman-teman papua agar, kita dapat mempunyai rasa kepedulian kepada sesama. Kita sebagai mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membangun papua.



This post have 0 komentar

1. Dibutuhkan Kritik dan Saran Yang Membangun
2. Kritik dan Saran Harus Sesuai Konten Tulisan
3. Terima Kasih Telah Berkunjung
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
This Is The Oldest Page